Posted by: JakartaTraveller.com | August 16, 2008

Menyelami Samudra Siroh Untuk Pelita Hati

Menyelami Samudra Siroh Untuk Pelita Hati
Oleh syahril_akhi tgl 26 October 2007 15:46

MENYELAMI SAMUDERA SIROH UNTUK PELITA HATI
(Tadabbur Siroh Li Tazkiyatun Nafs)

Janganlah engkau bertanya
kepada seseorang tentang dirinya
Tetapi bertanyalah tentang temannya
Sebab, setiap teman itu
akan mengikuti orang yang ditemaninya

Itulah sebait kata dari penyair Arab tentang realita kehidupan sosial masyarakat. Esensi syair tersebut sebenarnya melihat kondisi interaksi manusia sudah tidak lagi konsisten dengan mencontoh perilaku kehidupan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan dan para shabat sebagai tapak tilas kehidupan zaman keemasan Islam dengan segala aspek universal dan integralnya, sehingga efek samping dari persahabatan itu malah membuat para aktivis dakwah menjadi futur, tidak maksimal dalam ibadah, terjerumus dalam penyakit hati bahkan ada yang sampai benar-benar meninggalkan dakwah karena sebuah arti persahabatan.
Didasari oleh sebuah hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Abu Dawud yang artinya berbuyni : ” Agama seseorang itu akan tergantung temannya. Karenanya hendaklah di antara kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya”. Ya.. begitulah kehidupan di zaman Rasulullah SAW begitu hati-hatinya mentarbiyah para sahabat agar saling menjaga inti sebuah agama yaitu iman dari setiap jiwa para sahabat. Kekuatan imanlah akhir dari kesimpulan keselamatan dunia dan akhirat kita semua. Sehingga para sahabat yang dibentuk dengan kerangka iman mampu mengalahkan tirani hati yang sombong dan keras sehingga runtuhlah tirani nafsu syaitan dan tumbangnya imperium orang kafir.
Begitu banyak orang-orang yang hadir untuk menghiasi kehidupan Rasulullah SAW kemudian mereka saling melengkapi dalam mengarungi sebuah pelajaran hidup, suka maupun duka yang tetap menjaga konsistensi keimanan. Pada kali ini marilah kita para aktivis dakwah bisa menggali mutiara yang dipancarkan oleh para khulafaurrasyidin. Khulafaurrasyidin adalah miniatur konsep persahabatan ikhwan yang menjaga keaslian masing-masing karakter, tetapi mereka saling melengkapi dari setiap kekurangannya. Tak jarang Rasulullah SAW memuji, mendo’akan , mengambil ibroh dari sisi kehidupan mereka.
Wahai para ikhwan, mari kita coba satu persatu meneladani khufaurrasyidin (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) dari segi karakter persahabatannya.

1. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA

Begitulah julukan yang diberikan Rasulullah SAW kepada beliau yaitu Ash-Shiddiq (jujur/dapat dipercaya). Ya… sosok sahabat yang selalu meyakinkan Rasulullah SAW di saat fitnah melanda dakwah, bahwa masih ada orang yang mempercayai Rasulullah SAW seratus persen. Kalaulah kita bisa melihat dari sisi psikologis, manusia mana yang tidak butuh dukungan di masa hati sedang goyah, di saat ”mulut-mulut jahat” menebar fitnahnya. Minimal kita sebagai sahabat kita bisa membangun kembali posisi akal sadarnya dan menstabilkan emosinya. Secara psikologis ikhwan lebih mudah terbuka kepada sahabatnya yang dianggap dapat ”dipercaya”. Berbeda dengan akhwat, mereka lebih memilih yang ”disukai” atau ”cocok berkomunikasinya”

Satu sisi lain dari diri Abu Bakar yaitu sifat kebapakannya. Benar adanya Abu Bakar lebih tua dibandingkan Rasulullah SAW, tapi bukan itu titik tekannya. Memahami bahasa hati, tidak ”tua-tua keladi” itulah yang harus dicontohkan orang tua atau yang dituakan kepada anaknya atau ”adik-adiknya”. Senior yang lebih dewasa dalam percontohan aktivitas dakwahnya, agar lebih mudah memahami kondisi kejiwaan juniornya ketika tidak mampu untuk terbuka.

2. Umar bin Khattab, Amirul Mukminin RA

Sosok Umar sangat terkenal dengan keberaniannya, gagah nan perkasa, tegas dan lugas, ”pejantan tangguh” di medan jihad. Sehingga tergambarkan dalam bait katanya : ” hai orang-orang musyrik, orang-orang kafir Quraisy apabila kalian ingin mambunuh Rasulullah SAW maka hadapi dulu aku, maka kutebas kalian dengan pedangku! ”hanya dengan seorang Umar agama Islam ini menjadi mulia dengan kekuatannya, ditakuti oleh orang-orang kafir sehingga dakwah ini bisa lebih terbuka lebar, karena sudah memiliki ”tameng” kekuatan fisik yang ternama di kalangan kaumnya.
Kita harus mempunyai teman yang mempunyai karakter seperti Umar, mampu membela sampai di mana pengorbanan fisik itu dilakukan ketika menghadapi musuh-musuh Allah SWT yang menyakiti kita. Sifat tegasnya bukan berarti keras, terlihat dari hasil-hasil monumental ijtihadnya yang kemudian dibukukan menjadi fiqh ijtihad Umar bin Khattab, itulah Amirul Mukminin.
Sifat ”kerasnya’ telah terpaut dengan penghambaannya. Ketika Umar bin Khattab menjadi khlaifah, menungkapkan isi hatinya dengan tegas: ” Ketika aku sebelum menjadi khalifah , aku selalu tegas menghukum orang-orang yang menentang hukum Allah SWT. pada saat ini aku telah menjadi khalifah, siapa yang mau menebas leherku, menghukumku ketika aku lupa akan kewajibanku, kepada umatku. Aku takut karena amanah ini, bisa merubah hidupku tak seperti dulu…”. Ungkapan kejiwaannya yang tegas demi menjaga hati yang terkikis oleh arus kehidupan yang deras, lebih baik daripada diam atau menutup diri tapi menjerumuskan diri sendiri dan dakwah ini.

3. Utsman bin Affan, Dzur Qarnain RA

Sisi kelebihan Utsman adalah orang begitu bijaksana dan konseptor. terlihat dari pembukuan mushaf Al Qur’an karena meyakini lambat laun umat butuh penyebaran ”untaian kata“ pedoman hidup manusia yang ada di alam semesta ini. Maka lahirlah mushaf Utsmani . Mengakomodir kepentingan umat, bukan hanya umat Islam saja. Di saat perluasan penyebaran agama Islam ke benua-benua lainnya, dengan kekuatan konsepnya maka lahirlah Angkatan Laut Islam pertama, karena untuk menjaga serangan-serangan bangsa Romawi. Memberikan sumbangsih pemikiran terbaiknya untuk dakwah ini merupakan nilai tak terhingga dari amal dakwah ini, daripada bersikap pasif dan diam tanpa makna.
Ada keunikan hadir dalam sosok laki-laki ini yaitu ia mempunyai sifat sangat pemalu. Sehingga Utsman mampu memberikan teladan di bidang tata krama dan kesopanan atau adab-adab dalam pergaulan. Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda :“ yang paling penyayang di antara kalian dialah Abu Bakar, yang paling keras dalam agama Allah SWT dialah Umar, dan yang paling besar rasa malu nya dialah Utsman“. Malu ketika kita tidak mampu mengontrol sikap dan tindakannya. Malu karena khawatir apa yang kita perbuat akan menyakiti hati temannya. Malu karena kita tidak bisa memberikan terbaik untuk teman dan dakwah ini.

4. Ali bin Abi Thalib

Cerdas, pintar, jenius, muda dan energik itulah yang tergambar dari sosok Khulafaurrasyidin ke-4 ini. Sehingga para ulama dan sahabat di masanya menceritakan kecerdasannya ungkapan : ” tidak akan cukup empat puluh unta untuk membawakan hasil pentafsiran Ali pada kalimat Bismillahirrahmanirrahim saja ”. Di sinilah kita dianjurkan untuk berteman yang mempunyai kecerdasan intelektual yang tinggi. Sebagaimana pepetah Indonesia mengatakan ”Berteman dengan tukang minyak wangi akan terkena wanginya, berteman dengan pandai besi akan terkena bau asapnya”.
Intelektual yang moralis dan agamis, karena ke depan kita membutuhkan orang-orang yang cerdas secara emosional, spiritual, dan intelektual dalam membangun kerangka dakwah ini agar tetap eksis. Sosok aktivis dakwah yang moderat dalam segala hal, tidak jumud dan eksklusif.
Begitulah Rasulullah SAW mentarbiyah para sahabatnya dalam konsep membangun tatanan tarbiyah persahabatan lebih dari sisi kepribadian yang dimiliki, agar saling melengkapi seperti sifat-sifat Khulafaurrasyidin (nilai kejujuran, nilai keberanian, nilai kebijaksanaan, dan nilai kecerdasan) yang empat orang di atas. ya.. minimal kita harus memiliki empat sahabat karib dari sisi karakter tersebut. Saling mengetahui sisi kelebihan kepribadiannya yang dipersembahkan terbaik untuk dakwah ini, menjadi Qudwah dan Uswah serta saling menasehati dalam kebaikan.
Tak luput juga untuk para akhwat, bagian pelengkap kesempurnaan dalam makna kehidupan membangun pilar-pilar dakwah. Banyak sosok para akhwat di zaman Rasulullah SAW yang dapat ”mempesonakan” gerakan dakwah. Pada zaman sebelumnya pun bahkan ada yang dikenang dan tercantum nama sang mujahidah sejati itu dalam memoar kitab suci Al Qur’an yang harus kita yakini nilai kebenaran kisah dan ibrohnya. Mari para akhwat untuk merenung sejenak dan singkat dalam kisahnya orang-orang yang mepersembahkan hati, jiwa, dan hartanya untuk dakwah Islam ini dengan sepenuh hati tanpa pamrih.
Mentadabburi siroh para ummahat terdahulu, merupakan sebuah komitmen untuk meluruskan sedikit demi sedikit nilai ”kebengkokan” para akhwat . ”Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk kanan yang bengkok”. Ya.. pada dasarnya seperti itu . Meluruskannya jangan dipaksakan nanti akan ”patah”, namun bila dibiarkan maka akan semakin jadi ”bengkoknya”. Sehingga mudah-mudahan para akhwat mampu meminimalisir hadits Nabi SAW yang berbunyi ” Sesungguhnya ummatku yang paling banyak di neraka adalah wanita, maka bersedakahlah” (H.R. Abu Dawud)

1. Khodijah Binti Khuwailid

Beliau adalah tokoh akhwat sedunia pada masanya, orang yang selalu meneguhkan hati Rasulullah SAW di kala peristiwa deklarasi bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah akhir zaman, penyempurna risalah dakwah para nabi sebelumnya. Orang yang memperkokoh keimanan Rasulullah SAW. Dengan kesetiaannya di jalan dakwah membuat hati Rasulullah SAW pilu di saat Khadijah binti Khuwailid meninggal dunia, sehingga dikenallah dengan ”amul huzni”, tahun kesedihan . Bagaimana mungkin Rasulullah SAW tidak bersedih ditinggalkan oleh orang yang telah mempersembahkan kekayaannya untuk dakwah, orang yang pertama kali membela dan meyakini dakwah dan risalahnya.
Figur akhwat seperti inilah kemudian yang selalu dikenang oleh suaminya, sehingga suatu saat Rasulullah SAW sering memanggil nama Khadijah di sela-sela tidurnya padahal Khodijah sudah meninggal dunia. Kejadian inilah yang membuat Aisyah RA sedikit ”protes” dengan berkata ” Ya Rasulullah, wahai suamiku, engkau sering kali memanggil Khodijah padahal beliau sudah meninggal dunia, wanita tua yang kalah cantiknya dengan diriku, aku lebih muda dan segar.” Dengan ramah Rasulullah SAW menjawab kecemburuan Aisyah : ” Sesungguhnya tanpa Khodijah mungkin dakwah ini tak seindah sekarang…”. Ya.. begitulah Khodijah, istri pertama membuat kesan yang dalam bagi hati Rasulullah SAW, di saat istri-istri lainnya tetap hadir membagi rasa dan cintanya terhadap Rasulullah SAW dan dakwahnya. Bahkan Rasulullah SAW tidak pernah menikah lagi saat Khodijah masih ada di sisinya.

2. Aisyah binti Abu Bakar

Akhwat ini bukan lulusan perguruan tinggi, juga tidak pernah belajar dari para orientalis. Tapi, dia menjadi gurunya kaum laki-laki dengan kecerdasan dalam menghapal dan menteladani hadits Nabi SAW. beliau membuktikan bahwa akhwat lebih pandai dari ikhwan dalam bidang politik atau strategi perang. Sosok seorang akhwat yang mengusai banyak ilmu. Figur istri yang selalu membuat ”segar” hati dan jiwa Rasulullah SAW. Nuansana ceria dan energik yang dihadirkan membuat hati Rasulullah SAW tidak merasa penat dan terhibur di sela-sela kesibukannya dalam berdakwah dengan canda dan tawanya. Teladan akhwat yang siap dipoligami di saat usianya muda belia. Murobbiyah ideal para ummahat di zamannya.
Lincah dan visioner membuat dirinya ummul mukminin. Seorang akhwat yang mampu melayani kebutuhan umat dan dakwahnya dengan persembahan terbaiknya, apalagi untuk suaminya. Sifat ”melayani” itu yang kemudian menjadi teladannya, sangat respon terhadap peristiwa-peristiwa kecil maupun besar yang hadir di tengah umatny, bagaikan dokter pendeteksi penyakit-penyakit yang menjangkit umatnya Sastrawati dan ilmuwan yang mampu merangkai kata indah sehingga umatnya terpesona dengan kefa’ah ilmunya, Beliau adalah murid dan alumni dari madrasah kenabian dan madrasah iman.
Di saat dakwah sudah terbuka lebar tapi tetap menjaga tarbiyahnya. Yakhtalit walakin yatamayyazun,berbaur dengan baik tapi tetap menpunyai ciri khas sebagai akhwat aktivis dakwah.
Inilah yang harus para akhwat teladani. Kita bersyukur dengan meluasnya garapan dakwah kita, banyaknya aktivis dakwah yang sudah berbaur di tengah-tengah berbagai komunitas manusia. Tapi pembuktian yatamayyazunnya belum terlihat jelas , bahkan malah banyak terkontaminasi baik pola fikirnya, gaya hidupnya, dan pudarnya identitas keakhwatan yang lainnya. Begitulah Aisyah yang sekufu’ keimanan dan akhlaknya dengan Rasulullah SAW.

3. Maryam binti Imran

Wanita yang paling suci sedunia, tidak pernah ”tersentuh ” oleh seorang ikhwan pun. terpilih dan terukir namanya dalam salah satu surat di Al Qur’an. Diceritakan kisahnya dalam surat ke-19 ayat 16-36. maryam mampu menjaga hatinya dari kehidupan dunia yang mengikisnya, mampu menjaga matanya (ghadul bashar) terhadap ”pemandangan” yang menerkam hati dan perasaan, tidak condong untuk banyak ”merias” diri. Mampu mambuat bi’ah sahihah, menjawab tantangan kehidupan sosial dan kultur masyarakat yang melanda di zamannya. Sebagaimana Allah SWT mengabadikannya dalam Al Qur’an : ” dan ceritakanlah kisah Maryam di dalam Al-Qur’an ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur.” (QS Maryam:16). Menjauhkan diri dari suasana hiruk pikuk keduniaan.
Memberikan pembuktian, bahwa Islam adalah agam yang hanif, sehanif hati dan jiwanya. membentuk jiwa yang tabauh di saat kasih sayang Allah SWT daytang kepadanya : ” Jibril berkata : sesungguhnya aku ini hanyalah seorang urusan Tuhanmu, untuk memberimu anak laki-laki yang suci. Maryam berkata : ”bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang pezina”. (QS Maryam 19-20). Itulah jawaban dari seorang akhwat sejati, datang kepadanya kondisi konflik jiwa antar realita dan harapan . Tapi tetap menerima kondisi itu karena adalah jawaban kasih sayang-Nya Allah SWT kepadanya, istiqomah mempertahankan idealisme inner beauty. Maka berdo’alah Maryam : ”Maryam berkata : Sesungguhnya aku berlindung dari padaMu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.. ” (QS Naryam : 18)
Sabar, tabah, rendah hati, suci hati, dan pikirannya, meningkatkan kapasitas keimananannya membentuk kerangka kepribadiannya, membentuk karakter individu (single) untuk masa depan sebelum beranjak kepada status sosial yang lebih kompleks. Agar bisa menjadi teladan di saat menjadi istri, tarbiyatrul aulad serta sebagai ummi terealisasi tanpa beban moral.

3. Aisiyah, istri Fira’un

Ada masanya hukum Allah SWT hadir menentukan masa depan kita. Takdir itu hadir tidak hanya dalam kondisi baik, bahkan bisa jadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan. Semisal Aisiyah, seorang yang amat sangat solehah dan tabah menghadapi suami yang ’ammah tapi bukan hanya itu, malah suaminya Fira’un menentang dakwahnya Nabi Musa AS. Tapi tetap nilai istiqomah yang kokoh dalam kepribadiannya Aisiyah menambah nilai ketaatannya kepada Allah SWT, Tergambarkan dalam firman Allah SWT : ” Dan Allah SWT membuat istri Fira’un perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata : Ya Allah SWT, ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkanlah aku dari Fira’un dan perbuatannya dan selamtakanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS At Tahrim:11). Tidak terkontaminasi kehidupan suami atau lingkungan yang jauh dari keindahan Islam dan dakwahnya.
Memang ada ibarat bahasa sekufu’ ketika membicarakan jodoh, sebagaimana Allah SWT selalu menegaskannya dalam surat An-Nur ayat 26 yang berbunyi : ” Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula..”. Tapi kenapa pada Aisiyah ada kontradiktif kesekufu’annya. Itulah kekuatan ibrah dari Allah SWT. Istri yang ahli ibadah bertolak belakang dengan suami yang menentang dakwah. Kekuatan iman Aisiyah agar bisa mengimbangi kedzaliman Fira’un dan pengejawantahannya dengan diberikan izin Aisiyah membesarkan Musa AS, itulah hasil refleksi keimanannya.
Suatu saat kelak mungkin para akhwat akan bernasib sama. Sudah terlihat ketika dakwah ini mulai ”fulgar” mengepakkan ”sayap-sayap” dakwahnya. Fenomena itu pun terjadi. Fenomena para ikhwan dan akhwat banyak yang menikah dengan orang-orang ’ammah dan hanif. Membuat banyak interpretasi penyikapan. Sampai-sampai mempertanyakan janji-janji Allah SWT dalam surat An-Nur ayat 28 di atas. Apakah itu sekufu’. Sang akhwat dengan jilbab lebarnya, pakaian rapih menutupi auratnya, kok bisa ya dapat suami bukan aktivis dakwah, ataupun sebaliknya.
Sebenarnya ada 2 pemaknaan yang harus kita renungkan bersama di luar pemaknaan takdir Allah SWT. Pertama, mungkin Allah SWT Maha Tahu di balik peristiwa yang terjadi. Bisa jadi hidayah itu malah datang dari sentuhan keimanan sang ikhwan-akhwat yang kuat. Allah SWT dengan cinta-Nya memberikan pahala hidayah, kesabaran berdakwahnya dan penetrasi kekurangan keimanan sang suami atau istri yang ’ammah tadi. menambah barisan dakwah, pintu hidayah terbuka dari siapa saja dan kepada siapa saja. Kedua, Allah SWT tidak akan pernah melanggar janjinya. Benar apa adanya makna sekufu itu. Kalulah hal itu benar-bbenar terjadi, berarti ada faktor lain yang ”merasuki” lebarnya jilbab, rapihnya pakaian serta ”pesona” jenggotnya seorang ikhwan. Ya… sesuai deang kadar keimanannya masing-masing, atau dengan kata lain ada penyakit hati yang ”menggenang” dan ”dinikmati”. Sebagaimana makna dari hadits Nabi SAW yang secara jelas menyatakn ”Allah SWT tidak pernah menlihat dzahirnya tapi melihat isi hatinya”.maka dengan demikian hukum ini berlaku sesuai dengan kadar keimannya, kondisi hatinya, nilai ketaatan ibadahnya dan hal-hal yang tak pernah nampak darinya. Begitulah Allah SWT memberikan ganjaran kepada hamba-Nya di dunia dengan Maha Adil dan Bijaksana.
Tetapi ada hal yang harus kita renungkan bersama, aktivis dakwah adalah orang yang mempunyai idealisme berjama’ah membangun hidup lebih Islami, yang memang itu adalah bagian dari golongan umat Nabi SAW dan manhaj dakwahnya. Ketimbang orang-orang ’ammah yang tidak mempunyai idealisme berjama’ah, jangankan untuk berjamaah dengan makan universal. Disuruh shalat berjama’ah saja sulit, begitu guyonannya. Padahal amal yang pertama kali ditanya adalah shalat fardhu yang lima waktu dan sebaik-baik shalat fardhu adalah shalat dengan berjama’ah.
Menikahlah bukan sekedar dengan orang soleh atau solehah, tapi alangkah lebih baiknya kita ”mencari” orang-orang yang istiqomah dalam harakah, karena pada saat sekarang ini banyak ikhwan dengan ’gaya’ janggut dan ’eksekutif muda’nya serta akhwat dengan ’feminims’nya hanya sekedar menjaga ’identidas’ agar diakui sebagai seorang ikhwan ataupaun akhwat, padahal dari sisi amal dan harakah sejuta alasan utnuk menghindari medan jihad yang benar-benar nyata janji-Nya. Bacalah QS. At-Taubah : 24). Ya..alasan kerjalah, studilah, keluargalah karena istrilah dan lah..lah..yang lainnya.
Internalisasai diri, mengkondisikan keluarga dan karib kerabat, mengislahkan masyarakat, menata kembali Undang-undang negara dan tatanan pemerintah, membangun negara Islam, khilafah fil Ard, dan puncaknya adalah Ustadziyatul ’Alam. Itu semua tahapan-tahapan dakwah yang butuh konsentrasi dan keistioqomahan yang satu sama lain saling berkesinambungan, tidak harus mengulangi mahawir yang telah kita lalui bersama.
Ingatlah dakwah ini butuh nafas panjang, jangan sampai menambah lagi energi kita untuk satu masalah yang sebenarnya bisa ditanggulangi dengan bijak. Memang kita harus banyak mentadabburi siroh-siroh para Nabi dan sahabat yang lainnya. Agar mutiara hati kita kembali bersinar.
Demikianlah tarbiyah siroh, memaparkan keindahannya dan membuktikan kebenarannya. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya : ”seungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang memounyai akal, AlQur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membebarkan (kiyab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman ” (QS Yusuf : 111).Wallahu’alam bishowwab.

Renungan Sang Demostran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Memoar KAMMI UIN 2007-2008


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: