Posted by: JakartaTraveller.com | August 16, 2008

Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Tamat)

Senjakala Kekuasaan: Antara Soeharto dan Soekarno (Tamat)

Soekarno telah menjadi bagian dari sejarah bangsa ini. Ada sejarah yang belum terungkap dan masih diliputi kabut tebal misteri. Ada pula yang secara perlahan kian terang. Rezim Orde Baru pimpinan Presiden Jenderal Soeharto yang didukung Golkar sebagai mesin buldoser pendulang suara rakyat (saat itu tidak mau disebut partai politik) berkuasa selama 32 tahun. Negeri ini (katanya) tengah membangun, namun yang tak disadari oleh semua orang dananya ternyata dari hasil utang luar negeri.

Dengan tega, Soeharto pada November 1967 pun telah mengkavling-kavling wilayah NKRI menjadi bancakan bagi perusahaan-perusahaan asing multinasional. Belum lagi jutaan rakyat Indonesia tak bersalah yang telah dibunuh rezim ini dalam kebiadaban yang tidak terperikan.

Pada 27 Januari 2008, Soeharto telah menutup mata untuk selama-lamanya. Mantan orang nomor satu ini meninggal setelah diberi berbagai fasilitas canggih dari negara. Kontras sekali dengan kondisi ketika Presiden Soekarno wafat. Padahal jasa antara keduanya tak sebanding. Yang satu telah merelakan meringkuk selama 25 tahun di penjara Belanda hanya demi memerdekaan negerinya, sedangkan yang lain—mantan tentara KNIL, pelayan penjajah Belanda—malah merampok banyak kekayaan negeri ini selama puluhan tahun.

Hanya Korban Yang Berhak Memintakan Maaf

Yang menarik, saat Soeharto sakit dan kritis, banyak pihak meminta agar dosa-dosa dan kesalahan Soeharto diampuni dan dimaafkan. Padahal, semua yang meminta itu bukanlah korban politik dari Soeharto. Mereka tidak pernah menderita puluhan tahun dipenjara tanpa pengadilan oleh rezim Soeharto. Mereka tidak pernah kehilangan anggota keluarga gara-gara ditembak mati rezim Soeharto. Mereka tidak pernah mengalami kesulitan hidup puluhan tahun lamanya di masa rezim Soeharto. Tiba-tiba mereka dengan enteng dan enaknya minta agar rakyat Indonesia membukakan pintu maaf bagi orang yang oleh media Barat sendiri disebut sebagai Diktatur, Pinochet-nya Indonesia. Betapa naifnya hal ini!

Budiman Sudjatmiko, eks Ketua PRD yang kini bergiat di PDIP, pernah kesal dengan orang-orang dan kelompok yang tanpa tahu diri menghimbau agar Soeharto dimaafkan. “Hanya mereka, para korban rezim Orde Baru-lah yang berhak mengatakan itu!” tukasnya.

Ini sama saja dengan jutaan orang yang tengah dibantai dan disiksa oleh seorang penguasa, lalu setelah para korbannya bergelimpangan berdarah-darah bahkan banyak yang meninggal, tiba-tiba ada penonton yang sama sekali tidak diapa-apakan lalu berkata, “Wahai semuanya, maafkanlah penguasa itu, ampunilah dia…” Sungguh, benar-benar tidak lucu! Apapun alasannya.

Dosa-dosa Soeharto teramat banyak. Dan Soeharto tentu tidak memikulnya sendirian. Golkar sebagai mesin politik Soeharto, di mana para kroninya berkumpul, juga wajib bertanggungjawab. Jika para korban mereka telah memaafkan, ya itu lebih bersifat masing-masing. Tetapi kejahatan lainnya, perdata, KKN, HAM, dan sebagainya tetap harus diusut tuntas.

Gelar Pahlawan Orde Baru

Ada lagi wacana konyol yang disodorkan para kroni Soeharto agar orang ini diberi gelar Pahlawan Nasional. Ini benar-benar keterlaluan. Selesaikan dulu semua kasus hukum Soeharto, baru nanti diniulai apakah orang ini berhak menyandang gelar mulia itu atau tidak.

Yang paling pas bagi Soeharto mungkin gelar ‘Pahlawan Orde baru’, karena dia memang telah sangat berjasa bagi para kroninya sehingga sekarang ini masih saja tetap jaya dilingkaran pusat kekuasaan. Bahkan banyak media teve dan media cetak nasional yang sekarang dikuasai oleh para kroni Soeharto sehingga dalam pemberitaan kemarin Soeharto diimejkan sebagai seorang yang baik, dekat dengan rakyat, tak bersalah, bak pahlawan pembangunan, dan segala macam julukan lainnya.

Padahal di tahun 1965 sampai dengan 1969, jutaan rakyat Indonesia tidak bersalah telah dibunuh atas perintah darinya. Generasi muda sekarang, generasi MTV, memang tidak pernah tahu akan hal ini karena mereka telah teralienasi dari sejarah bangsanya sendiri. Mereka telah menjadi generasi yang ahistoris, yang tercerabut dari sejarah bangsanya yang selama 32 tahun terus-menerus digelapkan hingga sekarang.

Soekarno memang banyak pula kesalahannya. Tapi bagaimana pun Soekarno adalah orang besar. Namun beda sekali dengan penerusnya. Mudah-mudahan sejarah bangsa besar ini akan terbuka dan menjadi terang-benderang hingga anak-cucu kita bisa menilai dengan jernih mana yang harus ditiru dan mana yang harus dibuang. Amien.(rizki/tamat)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: