Posted by: JakartaTraveller.com | August 16, 2008

Sombong

Sombong

Sifat sombong, takabur dan tinggi hati selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan, keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan ketika dihadapkan pada kepemilikan orang lain. Allah membenci makhluk-Nya yang memunculkan sikap dan bersifat sombong. Kesombongan adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya. Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat mutlak Allah. Ia telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa. Dan, berarti mensekutukan Allah yang Maha Tunggal.

“Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para Malaikat
: ‘sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali Iblis ; Ia enggan
dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (Q.S. Al
Baqarah : 34)

Pengertian sujud pada ayat
diatas berarti menghormati dan memuliakan Adam. Bukan diartikan sujud
memperhambakan diri, karena jenis sujud terakhir hanyalah semata-mata kepada
Allah. Iblis diperintahkah oleh Allah untuk mengakui kelebihan-kelebihan yang
dimiliki oleh Adam. Konon, Adam diciptakan dari tanah dan Iblis dari api. Bagi
Iblis, api lebih mulia dari tanah yang kotor. Karenanya, perintah Allah tadi
ditolak mentah-mentah oleh Iblis dengan anggapan bahwa dia lebih mulia dari
Adam dilitik dari asal penciptaannya.

Sifat sombong, takabur dan
tinggi hati selalu beranjak dari assumsi bahwa dirinya memiliki kelebihan,
keistimewaan, keunggulan dan kemuliaan ketika dihadapkan pada kepemilikan orang
lain. Allah membenci makhluk-Nya yang memunculkan sikap dan bersifat sombong. Kesombongan
adalah sifat mutlak Allah yang tidak dibenarkan untuk dimiliki oleh selain-Nya.
Manusia yang menyombongkan diri berarti telah merampas sifat mutlak Allah. Ia
telah berusaha menyamai Allah yang Maha Kuasa. Dan, berarti mensekutukan Allah
yang Maha Tunggal. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah r.a,
Rasulullah bersabda:

“Jika seorang berkata karena
sombong. Celakalah manusia. Maka ia akan menjadi paling binasa”.(H.R.Muslim)

Kesombongan yang berawal dari
perasaan “lebih” atas orang lain, yang selanjutnya memunculkan sikap takabur,
dan dari sana lalu timbul sikap gampang menganggap rendah orang lain adalah
awal dari kerusakan tatanan sosial masyarakat. Islam datang guna menyempurnakan
keadaan masyarakat dengan menata aliran dan perputaran interaksi sosial. Tanpa
adanya kesamaan hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat, niscaya yang
berlaku pertama kali dalam masyarakat tersebut adalah ketimpangan. Segala
peraturan dalam masyarakat yang didasarkan pada “kontrak-sosial”, begitu pula,
tak akan berlangsung mulus tanpa adanya pengakuan martabat setiap peribadi
anggotanya. Kesetaraan dan kesejajaran sebagai modal utama kehidupan
bermasyarakat akan segera hancur dengan keberadaan beberapa individu anggota
masyarakat yang mengedepankan perilaku sombong. Nabi bersabda:

“Sesungguhnya Allah
mewahyukan kepada saya supaya kamu bertawadlu’, sehingga tidak seorang-pun
menganiaya orang lain, dan tidak seorang-pun menyombongkan diri pada orang
lain.”(H.R.Muslim)

Perilaku dan sikap memamerkan
amal ibadah, sangat dibenci. Allah berfirman:

“Jangan mengatakan dirimu
suci, ia (Allah) yang lebih mengetahui siapakah yang lebih bertaqwa” (An Najam
: 32).

Sikap merendahkan diri,
tawadlu’, dan tidak mempertontonkan kelebihan yang dimiliki dan amal ibadah yang
dikerjakan dihadapan orang lain, pada hakekatnya merupakan sebentuk pangakuan
bahwa segalanya dalam alam ini adalah semata berada di tangan Allah. Itulah
makna tauhid, pengakuan bahwa penerimaan dan penolakan amal ibadah yang telah
kita kerjakan adalah sepenuhnya hak istimewa Allah yang sama sekali berada
diluar jangkauan pengetahuan manusia.

Pada suatu masa, kota Baghdad
diramaikan dengan kabar kedatangan seseorang yang dikenal oleh masyarakat luas
sebagai wali (orang saleh). Guru spiritual dan syekh agung Baghdad,
Junaidi Al Baghdadi menjumpai orang tersebut, bertanya : Anda-kah sang wali itu
?. Betul, jawab si tamu. Berdirilah Syekh Junaidi Al Baghdadi, berpidato
dihadapan para muridnya. “Orang ini dusta. Tidak ada seorang wali yang
mengetahui dirinya sebagai wali. Dan tak ada seorangpun yang boleh
mengatakan bahwa dirinya saleh”.

Iblis masuk neraka dan
dikutuk oleh Allah untuk selamanya, bukan lantaran dia tidak mempercayai adanya
Tuhan (atheis), tapi semata-mata karena prilaku sombong, angkuh, takabur dan
tinggi hati.


Wallahu a’lam bisshowab.

Oleh: Rizqon Khamami



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: